Gamelan dan representasi Budaya Masyarakat Jawa.

Musik dari sebuah bangsa mampu mengambarkan produk budaya bangsa setempat, sebuah argumen yang saya yakini akan dimamini oleh banyak kepala.

Dalam musik jawa juga berlaku hal yang mengindikasikan demikian, di dalamnya irama-irama rancak dari sebagian instrumen musiknya hanya menuju dan menunggu pada bunyi gung. Sebuah gambaran tata kehidupan yang mampu diabadikan oleh seniman-seniman zaman dahulu.

Konsepsi menuju dan menunggu buny gung tampak mengakar dalam berbagai aspek kehidupan pribumi jawa, masyarakat jawa untuk mencapai sebuah kemakmuran membutuhkan seorang pemimpin yang berkarakter kuat, pemikir, ulet, dan yang terpenting mampu memberikan kataputus. Sejarah telah mengatakan demikian, dalam dongeng tentang kemashuran tanah jawa mesti dalah satunya terdapat unsur pemimpin yang sebagaimana kriteria diaas, kita tentu mengenang kebesaran singosari dengan Ken AroknyA, Kebesaran Majapahit dengan Patih Gajah madanya, Kegemilangan Orde beru lewat suhartonya.

Terlepas dari kehidupan protokoler istana masih dalam lingkup jawa—terkonsentrasi pada jawa islam, dalam kehidupan pesantren hal tersebut juga mengakar, sebuah pesantren akan mampu mencapai titik emasnya ketika diasuh oleh seorang Kiai yang setidaknya memenuhi beberapa kriteria diatas.

Dengarkan lagi gamelan itu, dalam beberapa abad belakangan ini lebih banyak menyanyikan kerinduan suatu bangsa akan hadirnya sebuah messih—merindukan, tidak mencari dan tidak melahirkan. Gamelan sendiri menterjemahkan kehidupan kejiwaan jawa yang ogah mencari, hany berputar-putar, mengulang, seperti doa dan mantra, membenamkan, mematikan pikiran, membawa orang kelam lesu yang menyesatkan, tidak ada pribadi.

itu salah satu otokritik yang saya lakukan sebgai orang jawa dengan segala ketidaktahuan dan kengawuran saya, terlepas dara hal diatas, saya sepenuhnya bangga sebagai pribumi jawa. bangga sebagai wujud syukur atas kehendak tuhan yang mentakdirkan saya sebagai orang jawa.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s