Mengenal Desktop Environment

Bagi anda pengguna linux tentu sudah tidak asing dengan istilah Desktop Environment (DE). Desktop environment adalah sebuah antarmuka grafis (Graphical User Interface) pada desktop sistem operasi anda. Dalam linux terdapat berbagai macan jenis desktop environment, beberapa yang banyak digunakan oleh pengguna linux di indonesia antara lain GNOME, KDE, LXDE & Xfce.

Desktop Gnome pada Komputer Saia

Desktop Environment ini juga bisa dibilang sebagai pengganti antarmuka baris perintah (Command Line Interface). Jadi setiap sistem operasi memiliki desktop environment masing-masing, tentunya dengan segala kelebihan dan kekurangannya. Dalam linux, kita dapat mengubah jenis desktop environment yang kita gunakan sesuai dengan selera masing-masing pengguna. Hal ini bisa dilaksanakan karena desktop environment pada linux biasanya bersifat open source.

Nah, untuk lebih mengenal pelbagai jenis desktop environment yang mungkin sesuai dengan selera anda, berikut kami tuliskan penjelasan umumnya:

1. KDE

KDE (K Desktop Environment) adalah lingkungan desktop (desktop environment) dan platform pengembangan aplikasi yang dibangun dengan toolkit Qt dari Trolltech. KDE berjalan pada banyak ragam sistem Unix, termasuk Linux, BSD, dan Solaris. Terdapat pula versi KDE untuk Mac OS X dengan bantuan lapisan X11 dan untuk Microsoft Windows dengan bantuan Cygwin. Keunggulan utama KDE adalah kemudahan pemakaian, fleksibilitas, portabitilis, dan kekayaan fitur.

KDE dikembangkan sejalan dengan KDevelop, paket pengembangan perangkat lunak, dan KOffice, paket aplikasi office. Huruf “K” mulanya adalah untuk “Kool”, tetapi selanjutnya diganti menjadi “K” saja, yang berarti “Aksara pertama sebelum ‘L’ (untuk Linux) dalam alfabet Latin.” Maskot dari proyek KDE adalah naga hijau bernama Konqi. Konqi dapat dijumpai di berbagai aplikasi, termasuk tatkala user hendak log out dan pada layar “Tentang KDE”.

2. GNOME

GNOME (atau GNU Network Object Model Environment) merupakan sebuah ‘computer desktop environment‘ untuk sistem operasi UNIX dan UNIX-like seperti Linux, BSD dan Solaris. GNOME adalah desktop resmi dari proyek GNU. Proyek GNOME dimulai sejak Agustus 1997 oleh Miguel de Icaza dan Federico Mena dengan tujuan menyediakan free software desktop untuk sistem operasi GNU/Linux. Dua jenis lingkungan yang disediakan GNOME adalah:

(1) The GNOME desktop environment, sebuah intuitive dan attractive desktop untuk end-users, dan

(2) the GNOME development platform, sebuah framework yang luas untuk membangun aplikasi yang      dapat diintegrasikan diseputar desktop.

GNOME tidak saja merupakan sebuah window manager, tapi merupakan sebuah sistem desktop yang mudah untuk berinteraksi dengan banyak sistem dan platform. Hal ini dikarenakan GNOME menggunakan CORBA (Common Object Resource Broker Architecture). GNOME dibuat berdasarkan lisensi GNU, hal ini membuat GNOME lebih diterima dalam dunia open source jika dibandingkan dengan KDE.

Dalam pelaksanaan migrasi Jogja Goes Open Source (JGOS), GNOME menjadi pilihan desktop yang paling banyak digunakan. Hal tersebut mengingat desktop ini dianggap oleh tim sebagai desktop yang paling sesuai dengan pengguna pemula.

3. Xfce

Xfce adalah sebuah desktop yang kencang dan ringan untuk sistem operasi Linux. Dirancang untuk produktifitas dan sangat mudah dikonfigurasi dengan tetap mengikuti spesifikasi Freedesktop. Tidak seperti desktop-desktop lain yang lebih berat seperti GNOME dan KDE, Xfce menggunakan daya sistem yang lebih sedikit. Sebagai tambahan, Xfce menyediakan modularitas yang bagus dan dependensi yang lebih sedikit; tidak memakan banyak ruang harddisk dan waktu yang panjang untuk menginstalnya.

Nama Xfce awalnya berdiri untuk XForms Common Environment, tapi sejak Xfce ditulis ulang selama dua kali, maka Xfce tidak lagi menggunakan toolkit XForms. Adapun namanya tetap, tapi F dijadikan huruf kecil (bukan “XFce”, tetapi “Xfce”).

4. LXDE

LXDE, Lightweight X11 Desktop Environment, adalah sebuah lingkungan desktop yang ringan dan cepat. LXDE dirancang agar ramah bagi pengguna dan desainnya ramping, ini untuk menjaga agar penggunaan sumber daya tetap rendah.

LXDE biasanya digunakan pada komputer dengan spesifikasi  RAM dan CPU berkemampuan rendah, meskipun begitu, LXDE  tetap kaya fitur sistem operasi. Penggunaan sumber daya yang rendah inilah yang membuat LXDE hemat energi. Di lokasi migrasi gerakan Jogja Goes Open Source (JGOS) desktop ini digunakan pada komputer berspesifikasi rendah yang masih ada di beberapa Pusat Kesehatan Masyarakat (Puskesmas) di Kota Yogyakarta.

*diolah dari perbagai sumber.

Miror dari catatan @ZaimWahid di @gerakanjgos

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s