Persambungan Nafas Pesantren Tegalrejo dengan Al-Luqmaniyyah

Apa yang kita peroleh saat ini merupakan hasil dari jalan keilmuan dan tirakat yang telah dilakukan oleh para Guru-Guru Kita. Maka dari itu, Semoga nafas-nafas mereka terus berlanjut sampai kita. Membentuk bangunan yg telah mreka design.

LQ Tampak Depan -Edited-

Demikian disampaikan oleh KH. Ahmad Nasihin, dalam acara Khotmit Kutub Pondok Pesantren Al-Luqmaniyyah (16/6) malam. Lebih lanjut, Gus Nasihin, demikian Beliau disapa, Pesantren Luqmaniyyah merupakan salah satu pesantren yang memiliki pertalian keilmuan secara langsung dengan API Tegalrejo. Hal ini diperoleh dari sanad yang bersambung dari Almarhum KH. Najib Salimy, KH. Salimy, KH. Hudlori Abdul Aziz, Gus Nasihin, dan Gus Nur Khamid, yang kesemua keluarga tersebut merupakan santri dari KH. Chudlori.

Hal tersebutlah yang kemudian menjadikan Luqmaniyyah identik dengan tegalrejo. Hal yang menarik, Luqmaniyyah dengan aroma salaf khas Tegalrejo mengabdikan kiprahnya bagi mahasiswa Jogjakarta yang berdomisili di tengah-tengah Kota Yogayakarta. So, Semoga Luqmaniyyah semakin berkah dan manfaat bagi pengawalan Aqidah, Syariah, dan Amaliyah santri Jogja.

Beberapa hal identik lain yang ada pada Pesantren Tegalrejo dan Al-Luqmaniyyah adalah sebagai berikut:

Nama Pesantren

Selanjutnya, PPLQ (sebutan lain untuk pondok pesantren Al-Luqmaniyyah) diasuh oleh KH. Najib Salimi, putera kedua dari KH. Salimi. Beliau adalah seorang ‘alim didikan KH. Abdurrahman Chudlori, pengasuh API Tegalrejo Magelang. Nama PPLQ dengan menyertakan nama API, yang singkatan dari Asrama Perguruan Islam merupakan adopsi dari pesantren API Tegalrejo itu. Memang diharapkan lulusan API mampu menjadi seorang yang menyebarkan ilmu agama (kata ‘guru’) ke umat muslim dan berdakwah Amar Ma’ruf Nahi Munkar.

Kurikulum, Tirakat dan Mujahadah

Dari segi materi pendidikan, PPLQ memiliki karakter yang mirip dengan sistem yang dipakai di API Tegalrejo. Sebagai salah satu contoh, PPLQ sangat menganjurkan para santrinya untuk mujahadah dan riyadloh sebagai sarana untuk mempersiapkan diri menerima ilmu yang bermanfaat. Setiap setelah maghrib dan sebelum subuh selalu terdengar lantunan dzikir mujahadah di masjid PPLQ.

Selain itu, tiap setelah Ashar, Isya, dan Subuh santri diharuskan mengikuti kegiatan belajar di madrasah/kelas. Pelajaran yang dikaji mulai dari Al-Quran, tafsir, hadits, mustholah hadits, nahwu, shorof, balaghoh, fiqih, ushul fiqih, tarikh, dan juga ilmu tauhid. Mayoritas materi tersebut dikaji dengan menggunakan metode sorogan, bandongan, dan diskusi kitab-kitab kuning dengan teks bahasa Arab. Kitab-kitab yang dikaji cukup banyak, antara lain Syifaul Jinan, Aqidatul Awwam, Fathul Manan, Khulashoh Nurul Yaqin, Jurumiyah, Imrithi, Alfiyah, Syarh Ibnu Aqil, Arbain Nawawi, Bulughul Marom, Tanqihul Qoul, Sahih Bukhari, Taisir Mustholahul Hiadits, Safinatun Najah, Fathul Qorib, Fathul Muin, fathul Wahhab, Kifayatul Awwam, Ummul Barahin, Husunul Hamidiyah, Ta’limul Muta’allim, Syarah Waroqot, Lubbul Ushul, Ushul Fiqih Abdul Wahhab Khallaf, Ihya Ulumiddin, Jauharul Maknun dan lainnya

WaalahuA’lam.

2 thoughts on “Persambungan Nafas Pesantren Tegalrejo dengan Al-Luqmaniyyah

    • Wah ada-ada saja kang miftakh. Keilmuaannya tetap sama, hanya wahana penyampaian kepada khalayak yang berbeda. Kalau santri LQ masih butuh Jaringan Internet, kalau Santri Sana Insyalloh Jaringannya lebih seperti Jet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s