Catatan: “Dibalik Padatnya Warga Pesantren”

Hidup sekamar dengan banyak kawan telah saia alami sejak nyantri di Guyangan (Tahun 2005). Meskipun sejatinya sejak kecil saia telah biasa lari ke kamar mas/mbak untuk tidur disana (kebetulan rumah saia dekat dengan asrama), namun secara penuh hidup bersama ya baru di Guyangan. Saat itu (di Guyangan), kami biasa sekamar dengan 15-18 orang.

Dengan penuh keterpaksaan (awalnya) kami harus membiasakan diri berbagi tempat tidur, ruang bernafas, bau badan bahkan terkadang uang jajan. Singkat cerita, akhirnya saia terbiasa dengan atmosfir tersebut. Bahkan dengan segala keterbatasan yang ada, saia kecanduan citarasanya.

Candu atmosfer pesantren yang saia alami di kemudian hari mengantarkan saia kembali ke dunia pesantren. Kali ini saya memilih untuk nyantri kepada KH. Najib Salimy, Allahu yarkham di Pesantren Al-Luqmaniyyah Yogyakarta (Tahun 2007). Pilihan ini saia putuskan bersamaan dengan pilihan saya untuk melanjutkan kuliah di UIN Sunan Kalijaga.

Kecanduan tersebut, pada suatu waktu memunculkan banyak perntanyaan dalam diri. Kenapa saya betah? kenapa begitu nikmat? kenapa takut pergi dari zona ini?.. Pelbagai pertanyaan tersebut mau tidak mau kemudian menjadi catatan tersendiri dalam diri saia..

Pembentukan Pribadi Humanis

Tanpa membaca kitab kuning maupun Qonun pesantren, Humanisme senantiasa tertanam pada jiwa para santri. Bagaimana hal itu terjadi? Pertanyaan ini terjawab oleh tuntutan bagi santri untuk senantiasa menghargai kepentingan pribadi dari masing-masing individu.

Ambil contoh, seorang santri harus memberikan ruang kepada kawan lain untuk tidur dikamar, meskipun harus uyel-uyelan. Contoh lain, santri akan dengan ringan meminjamkan barang/uang kepada kawan yang lain tanpa tendensi apapun. dan sebagainya..

Hal-hal kecil sebagaimana contoh diatas tersebut, ialah hal yang saia rasakan mampu membentuk mental humanis (menyayangi dan menghargai manusia lain) pada diri santri.

Budaya Berbagi

Berbagi menjadi aktivitas lain yang begitu saja terbentuk diantara kami. Hal ini secara tidak langsung terbentuk dari rasa kebersamaan yang muncul akibat dari interaksi intens yang terjadi setiap harinya.

Pada mulanya kami hanya berbagi tempat tidur memang, tetapi pada tahun-tahun berikutnya kami telah saling berbagi uang saku dan jatah makan. Sehingga kami merasa seperti keluarga, “Nduwe ra nduwe suwit tetep iso mangan” itu yang menjadi semangat berbagi kami.

Sebuah Catatan kecil, Yogyakarta 14 Ramadhan 1433.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s